Kamis, 20 Oktober 2011

PEMBERSIH VAGINA dan WANITA HAMIL

Membersihkan vagina dengan obat-obatan antiseptik, kini semakin sering dilakukan kaum perempuan. Alasannya beragam. Entah untuk "kosmetik" atau kesehatan. Padahal, meski dijual bebas di pasaran, sebenarnya tidak semua wanita dengan bebas bisa menggunakan obat ini. Pasalnya, obat-obat antiseptik ini, tetap mengandung zat kimia.Sebelum memutuskan membeli sebaiknya periksa dulu kondisi vagina.

Tak semua wanita bisa menggunakan obat pencuci vagina. Contohnya, wanita yang punya kecenderungan alergi terhadap zat kimia.Kalau memakai obat cuci, justru berisiko membuat luka pada dinding vagina. Zat-zat kimia ini akan menyebabkan iritasi bila bersentuhan dengan serviks atau dinding vagina sebelah dalam. Akibatnya, bukannya bersih, malah menimbulkan luka baru. Luka yang terbuka ini bisa berisiko memancing infeksi. Kalau tidak segera ditangani, infeksi bisa menimbulkan kemandulan atau bahkan kanker.

PAKAI AIR HANGAT

Namun demikian, bukan berarti obat pencuci vagina tak layak digunakan. Fungsinya sebagai desinfektan tentu bermanfaat. Ada baiknya ibu-ibu saksama mempelajari penggunaannya sebelum memakai. Untuk vagina yang masih sakit, ada infeksi, atau sedang mengalami keputihan akibat patologis, penggunaannya sama sekali tidak dianjurkan.

Kalau memang organ intim tidak mengalami hal-hal seperti disebut di atas, obat pencuci vagina boleh-boleh saja digunakan.Tapi tetap saja harus bijaksana menggunakannya. Artinya tidak boleh terlalu sering dan jangan dipakai dalam jangka waktu yang lama.

Bila keputihan yang diderita menunjukkan tidak akut, dokter akan menyarankan untuk mencuci daerah vagina dengan obat antiseptik.Sayangnya seringkali setelah tahu obatnya, pasien malah mengganggap obat pencuci itu bisa dipakai terus setiap kali dia mengalami keputihan. Padahal obat pencuci bukanlah penyembuh keputihan. Salah-salah, keputihan malah akan bertambah parah.

Pasalnya, suasana asam di vagina terganggu menjadi basa. Dikhawatirkan malah menyebabkan bakteri sifatnya membantu, yaitu yang melembabkan dan menjadi pembersih vagina atau lebih dikenal dengan bakteri doderlein, mati. Akibatnya, vagina berubah menjadi basa. Sebab, sebenarnya bakteri inilah yang memproduksi asam laktat untuk mempertahankan pH vagina antara 3,5 hingga 4,5.Bila pH tidak seimbang, maka kuman lain seperti jamur dan bakteri, malah punya kesempatan hidup di tempat tersebut. Sehingga muncullah penyakit lain. Yang tadinya keputihan biasa, misalnya, menjadi infeksi.

Selain itu, jika dipakai terlalu sering, zat-zat kimianya lama-lama akan menggerus mukosa vagina.Kalau mukosa menipis lalu timbul luka, kuman akan gampang masuk. Ini malah lebih fatal lagi.Apa pun mereknya obat pencuci vagina tidak dipakai setiap hari.Untuk desinfektan, cukup seminggu sekali. Kecuali bila ada indikasi, misalnya infeksi yang memang memerlukan pencucian dengan zat-zat kimia. Itu pun harus atas saran dokter.

Padahal ada cara yang lebih murah dan aman.Cuci dengan air hangat dan sabun yang kadar sodanya tak terlalu tinggi. Ini justru lebih aman, terlebih bila dilakukan dengan benar. Artinya, yang dibersihkan cukup mulut vagina di bagian luar. Itu sudah cukup. Lain halnya jika tengah bepergian dan tak yakin dengan kondisi air setempat,penggunaan disinfektan diperbolehkan, dengan catatan tidak dalam jangka waktu lama. Dan kalau ragu dengan kondisi air,gunakan air kemasan yang bersih untuk mencuci daerah intim.

Bagi yang tengah hamil, terutama hamil muda, hindari penggunaan obat pembersih vagina.Zat kimianya bisa mempengaruhi kondisi janin. Letak liang vagina dekat dengan rahim, sehingga dikhawatirkan cairan yang berisi zat kimia tadi, ikut masuk mengalir ke rahim.

Kendati kehamilan sudah besar pun, pemakaian obat pembersih vagina tetap harus dikonsultasikan dengan dokter kandungan. Pokoknya baik hamil maupun tidak, minta saran dokter kebidanan dan kandungan terlebih dulu sebelum kita memutuskan membeli obat pencuci vagina.Produsen selalu bilang, produknya aman bagi setiap wanita. Tapi perlu diingat, kondisi alat genital setiap wanita berbeda-beda. Sebab, higiene lingkungan, kebersihan pribadi, dan gaya hidup seksual setiap wanita berbeda-beda. Hal-hal ini berpengaruh pada kondisi organ intim.

Harus dicamkan pula, obat-obat pencuci vagina ini sifatnya hanya membersihkan, bukan untuk mengobati.Jadi kalau setelah memakai obat ini lalu ada perdarahan atau keputihan, segera hentikan dan periksa ke dokter karena mungkin saja ada alergi.

Cara Menjaga Organ Reproduksi

Daripada sibuk memilih obat pencuci vagina, yang utama perlu dilakukan adalah menjaga kebersihan di organ reproduksi. Apalagi kita tinggal di daerah dengan kelembaban tinggi, maka jangan biarkan kuman bertumbuh subur di daerah reproduksi.

*1.Usahakan higiene di daerah tersebut benar-benar sempurna. Selalu cebok sampai bersih setiap habis ke belakang. Kalau sesudah BAB, perhatikan cara cebok, jangan diseret ke depan dari lubang anus ke arah vagina, tapi justru dari vagina ke belakang, sebab kuman-kuman yang ada di lubang dubur bisa berpindah ke daerah sekitar vagina.Setelah cebok, basuh dengan handuk atau lap hingga kering.
 *2.Begitu ada keluhan keputihan yang bukan alamiah, misalnya berbau, berwarna hijau, kuning, disertai perdarahan, banyak dan waktunya sering, segera periksa ke dokter.Keputihan seperti itu bersifat patologis.Jadi harus segera diperiksa untuk dicari penyembuhannya.

*3.Jangan kenakan pakaian dalam yang terlalu ketat. Paling baik adalah yang terbuat dari katun yang menyerap keringat.Daerah di sekitar vagina harus dijaga agar selalu tetap kering. Pakaian dan celana dalam yang ketat hanya akan membuat suasana di daerah intim menjadi lembab. Lembab bisa menjadi tempat berkumpulnya jamur dan kuman.
*4.Hindari pemakaian panty liner terlalu sering karena akan membuat vagina menjadi tambah lembab. Rambut-rambut di kemaluan, mengeluarkan keringat. Jika tertutup terus oleh panty liner, keringat akan terus bertambah sementara bahan panty liner yang tak berpori, menghambat sirkulasi udara di sekitar vagina.
*5.Untuk mencegah jamur dan kuman tumbuh subur, buang kebiasaan menahan kencing.Karena ditahan,air kencing menetes di celana. Padahal air seni ini merupakan lahan subur tempat tumbuhnya kuman.
*6.Sebelum tidur, usahakan untuk mencuci vagina setelah berhubungan dengan suami.
*7. Yang tak kalah penting, kendati keluhan keputihan tidak muncul, lakukan pemeriksaan Pap Smear secara berkala.Minimal setahun sekali, terutama untuk wanita yang sudah menikah.
*8. Jangan lupa memperhatikan kebersihan lingkungan secara keseluruhan. Menjaga higiene lingkungan juga penting. Periksalah kualitas air di rumah. Air yang kotor tentu tidak layak untuk membersihkan daerah yang sensitif seperti vagina.
*9. Perhatikan pula kesehatan fisik secara keseluruhan. Bila perlu, lakukan general check-up secara keseluruhan, termasuk kondisi kesehatan gigi.Pernah ada penelitian terhadap kasus keputihan yang tidak pernah berhenti. Ternyata penyebabnya bukan dari jamur atau infeksi di sekitar vagina, melainkan dari infeksi yang timbul di sekitar gigi. Dengan kata lain, kesehatan lingkungan memang mempengaruhi kesehatan tubuh, termasuk kesehatan alat reproduksi.

Daun Sirih Lebih Aman

Ramuan tradisional, juga kerap digunakan kaum ibu untuk membersihkan daerah intim. Ada yang berbentuk akar-akaran, bubuk, maupun krim yang dioles.Kalau sifatnya dimasukkan atau ditempelkan langsung ke vagina sebaiknya dihindari. Sebab akar-akaran, bubuk, atau krim, risikonya tetap besar. Bisa saja tidak steril.Akhirnya malah menimbulkan luka di dinding vagina, lalu jadi infeksi.

Bila ingin menggunakan pembersih tradisional, pilih daun sirih. Caranya,ambil beberapa lembar daun sirih, cuci bersih, lalu direbus.Air hangat rebusan digunakan sebagai air untuk cebok.Resep tradisional ini terbukti secara turun-temurun merupakan obat desinfektan yang mujarab. Bahkan air hangat rebusan daun sirih bisa lebih sering digunakan karena tidak mengandung zat kimia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar